Penyakit Tidak Menular (PTM) atau juga disebut Non Communicable Disease (NCD) merupakan salah satu tantangan utama dunia kesehatan, khususnya di negara-negara berkembang di dunia termasuk Indonesia.
Dengan pemerintah yang sekarang saya pesimis, karena sudah bau asap rokok semua
– dr. Kartono Muhammad
Di Indonesia, proporsi angka kematian PTM meningkat dari 41,7 persen pada 1995 menjadi 59,5 persen pada 2007. Hasil Riskesdas 2007 menunjukkan tingginya prevalensi penyakit tidak menular di Indonesia, seperti hipertensi (31,7 persen), jantung (7,2 persen), stroke (0,83 persen) dan diabetes mellitus (1,1 persen).
Selain, karena berubahnya pola hidup masyarakat yang meliputi pola makan tak sehat, rendah serat, tinggi lemak, garam serta gula berlebih, kebiasaan merokok menjadi penyumbang terbesar penyebab utama terjadinya penyakit tidak menular di Indonesia.
Hal tersebut disampaikan pengamat masalah kesehatan yang juga mantan Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr. Kartono Muhammad di sela-sela acara diskusi ‘Tingginya Angka Kematian Akibat Penyakit Tidak Menular di Indonesia’, Senin, (15/8/2011) di Jakarta.
Seperti diketahui, epidemik PTM sudah menjadi fokus perhatian dunia. Di tingkat global, pada 19-20 september mendatang, akan dilaksanakan NCD Summit di New York, di mana setiap negara menyampaikan status terkini tentang kasus PTM di negara masing-masing.
“Rencananya pertemuan tersebut akan dihadiri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dan saya pikir SBY tidak akan berani datang. Karena kalau dipertanyakan usaha yang telah dilakukan selama ini dalam mengendalikan rokok, tidak ada sama sekali,” ucapnya.
Kartono mengatakan, lambannya pengesahan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) mengenai tembakau tidak terlepas dari terlalu kuatnya intervensi industri rokok serta ketidakpedulian pemerintah terhadap kesehatan masyarakat.
“Bentuk intervensinya berupa duit, ke individu-individu. Para birokrat sama anggota parlemen tidak pernah memikirkan rakyat. Mikirnya hanya duit untuk dirinya sendiri. Dengan pemerintah yang sekarang saya pesimis, karena sudah bau asap rokok semua. Kemungkinan susah sekali diimplementasikan. Akan banyak hamabatan,” tegasnya.
Menurutnya, salah satu upaya yang saat ini dapat dilakukan pemerintah untuk menekan rokok adalah dengan menaikan harga cukai yang substantif dan melarang penjualan rokok secara ketengan (batangan).
“Kalau cukainya tinggi jadi orang miskin sama anak kalau mau beli rokok mikir. Kalau beli ketengan besar pengaruhnya terutama dalam mencegah anak-anak,” tutupnya.
Sumber: www.kompas.com
Related Posts Slider
Komitmen pemerintah untuk mengangkat jamu sebagai obat asli Indonesia cukup tinggi. Hal ini ditunjukkan dengan arahan Presiden RI pada Gelar Kebangkitan Jamu tahun 2008, yang berharap jamu dapat menjadi brand ...
JAKARTA– “Pada tahun 2020 semua rumah sakit di Indonesia harus sudah menerapkan Green Hospital”. Demikian disampaikan dr. Supriyantoro, Sp.P, MARS, Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan pada Seminar Green Hospital tanggal ...
Kejadian kematian ibu dan bayi yang terbanyak terjadi pada saat persalinan, pasca persalinan, dan hari-hari pertama kehidupan bayi masih menjadi tragedi yang terus terjadi di negeri ini. Untuk menurunkan Angka ...
Tenaga kesehatan berperan besar dalam menentukan pembangunan kesehatan. Di Indonesia, terdapat ribuan tenaga kesehatan di Puskesmas yang telah bekerja dengan sungguh-sungguh dan menunjukkan prestasi kerja yang sebaik-baiknya. Mereka adalah pahlawan ...
Jakarta, Jam tidur ideal orang dewasa setiap malamnya adalah 7 hingga 8 jam per hari. Hal ini bukan hanya berguna terhadap kebugaran Anda di pagi hari saja, tetapi kurangnya jam ...
Jakarta, Bahkan 1 jam dari setiap aktivitas fisik sehari akan bermanfaat bagi kesehatan jantung anak. Hal tersebut berdasarkan hasil penelitian yang ilakukan oleh peneliti Inggris. Hasil studi tersebut menemukan bahwa, ...
Penyakit jantung merupakan salah satu penyakit yang banyak ditakuti oleh masyarakat. Beberapa orang bisa bertahan dari penyakit jantung sementara yang lainnya tidak. Apa saja yang membuat seseorang berisiko meninggal mendadak ...
Bidan merupakan ujung tombak terdepan pelayanan dasar KIA-KB untuk memberikan pelayanan Jampersal. Oleh karenanya diharapkan, para bidan menerapkan komunikasi interpersonal dalam memberikan konseling pengenalan tanda bahaya dan komplikasi kebidanan. Bidan ...
Program Imunisasi berhasil menekan morbiditas dan mortalitas tujuh penyakit di Indonesia (Tuberkulosis, Polio, Difteri, Tetanus, Pertusis, Campak, dan Hepatitis B), meskipun untuk eradikasi, eliminasi, atau reduksi dari penyakit-penyakit ini masih ...
Berdasarkan statistik, sekitar 17,5 juta orang per tahun meninggal akibat penyakit yang menyerang jantung dan pembuluh darah. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan menyatakan penyakit kronis seperti penyakit jantung menjadi penyebab ...
Jamu harus jadi tuan rumah di negeri sendiri
Menerapkan Green Hospital di Rumah Sakit
Upaya Percepatan Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi
Tenaga Kesehatan Merupakan Pahlawan Pembangunan Kesehatan
Akibat Kurang Tidur, 6 Penyakit Seram Menanti
Manfaat Olahraga untuk Kesehatan Jantung Anak
Yang Berisiko Meninggal Mendadak Akibat Jantung
Bidan ujung tombak terdepan pelayanan kesehatan ibu dan
Program Imunisasi Berhasil Tekan Morbiditas dan Mortalitas 7
Sayangi Jantung, Kurangi Lemak dari Gorengan
Related Posts