Sayangi Jantung, Kurangi Lemak dari Gorengan
- Wednesday, September 28, 2011, 21:04
- Artikel Kesehatan
- 367 views
- Add a comment
Berdasarkan statistik, sekitar 17,5 juta orang per tahun meninggal akibat penyakit yang menyerang jantung dan pembuluh darah. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan menyatakan penyakit kronis seperti penyakit jantung menjadi penyebab utama kematian di dunia.
Tingginya angka statistik tersebut memang ada penyebabnya. Peluang untuk terkena penyakit jantung koroner bisa dari berbagai sudut, baik yang tidak bisa dihindari, seperti faktor genetik, hingga yang faktor risiko yang masih dikendalikan, misalnya merokok dan pola makan.
Apa boleh buat, urusan kesehatan memang selalu bersaing dengan lidah. Makanan tinggi gula, garam, kurang serat, dan lemak jenuh yang berlebihan bisa jadi pintu masuk gangguan jantung dan pembuluh darah.
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika terhadap 87.230 responden disebutkan, risiko stroke 44 persen lebih tinggi pada mereka yang hobi menyantap makanan berlemak.
Menurut dr Fiastuti Witjaksono, SpGK, ahli gizi dari Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, konsumsi lemak orang Indonesia sangat tinggi. Sayangnya, konsumsi lemak itu kebanyakan berasal dari lemak jahat.
“Orang Indonesia mendapatkan lemak jahat terutama dari makanan yang digoreng. Pada dasarnya, minyak sayur adalah lemak tidak jenuh, tetapi proses pemanasan minyak dalam suhu tinggi itu mengubahnya menjadi lemak jenuh,” katanya di sela-sela peluncuran Philips Airfryer, alat menggoreng tanpa minyak, di Jakarta, Jumat (22/7/2011).
Makanan yang digoreng tak bisa dimungkiri masih menjadi makanan favorit masyarakat di Tanah Air. Karena itu, menurut Fiastuti, peningkatan kesadaran makanan sehat perlu ditingkatkan.
“Meningkatkan asupan makanan berserat dan mengurangi makanan yang mengandung minyak dan lemak bisa menjadi satu langkah untuk mendapatkan jantung yang sehat,” katanya.
Saat ini Philips baru saja memperkenalkan alat untuk menggoreng tanpa memerlukan tambahan minyak goreng. Menurut Rudi Ashari, Brand Development Manager PT Philips Indonesia, Philips Airfryer menggunakan teknologi rapid air yang menggabungkan udara panas bersirkulasi cepat dan elemen pemanggang untuk menghasilkan makanan gorengan.
Teknologi inovatif itu juga memungkinkan makanan bisa digoreng hingga suhu mencapai 200 derajat celsius meski tanpa minyak. “Dengan alat ini, kandungan lemak dalam makanan bisa dikurangi hingga 80 persen tanpa mengurangi kerenyahan khas gorengan,” katanya. (Lusia Kus Anna. kompas.com)
Gorengan Bikin Lemak Baik Jadi Jahat
Lemak, meski cenderung dihindari, sebenarnya mengandung nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Hanya saja, perlu dikenali apakah lemak tersebut golongan yang baik atau yang jahat untuk tubuh. Lemak baik seperti pufa (lemak tak jenuh ikatan ganda, atau lemak esensial) bisa menjadi lemak jenuh atau safa (lemak jahat).
Asupan pufa bisa dibutuhkan tubuh untuk pembentukan sel. Namun, lemak baik ini bisa menjadi jahat jika cara memasaknya keliru, yakni dipanaskan dengan suhu tinggi.
Dr Ratna Djuwita Hatma, MPH, dari Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI) mengatakan, cara masak yang keliru bisa mengurangi komposisi asupan pufa dan menambah asupan safa.
“Manfaat pufa hilang saat makanan digoreng. Sebaiknya kukus atau rebus makanan agar tidak menambah komposisi safa dalam makanan,” papar dr Ratna pada media workshop “Pentingnya Peran Lemak Esensial bagi Tumbuh Kembang Anak” yang diselenggarakan Alchemy beberapa waktu lalu.
Dr Ratna menunjukkan hasil survei yang mengambil sampel etnis Minangkabau, Jawa, Sunda, dan Bugis bahwa komposisi asupan lemak dari pola makan mereka sudah seimbang. Hanya saja, survei yang dilakukan terhadap perempuan di atas 18 tahun ini menunjukkan bahwa asupan pufa masih kurang optimal.
Makanan mengandung lemak esensial yang paling sering dikonsumsi empat etnis ini adalah tempe, tahu, ikan, dan telur. Sedangkan kacang-kacangan serta buah dan sayuran yang mengandung pufa masih minim jumlah konsumsinya.
“Kurangnya asupan pufa menggambarkan kurangnya asam lemak esensial. Hal ini merupakan faktor risiko terhadap penyakit kardiovaskular, seperti penyakit jantung koroner, stroke, hiperkolesterol, dan hipertensi,” ujar dr Ratna memaparkan hasil penelitiannya. (Wawa | din – kompas.com)


