Yang Berisiko Meninggal Mendadak Akibat Jantung

Penyakit jantung merupakan salah satu penyakit yang banyak ditakuti oleh masyarakat. Beberapa orang bisa bertahan dari penyakit jantung sementara yang lainnya tidak. Apa saja yang membuat seseorang berisiko meninggal mendadak akibat jantung? Tim peneliti dari Wake Forest Baptist Medical Center melaporkan dalam British Medical Journal’s Health bahwa ada faktor-faktor tertentu yang bisa membuat seseorang lebih berisiko mengalami kematian jantung mendadak.

“Kematian jantung mendadak biasanya terjadi sebelum atau saat pasien baru tiba di rumah sakit, sehingga hanya sedikit usaha yang bisa dilakukan untuk menyelamatkannya,” ujar Dr Elsayed Z Soliman, seperti dikutip dari Healthland.Time, Rabu (27/7/2011).

Jika bisa mengidentifikasi faktor-faktor risikonya, maka diharapkan bisa menjadi langkah pertama untuk mengurangi angka kejadian kematian jantung mendadak. Kondisi ini terjadi ketika jantung berhenti secara mendadak dan tidak terduga sehingga mencegah darah mengalir ke otak dan organ penting lain yang menyebabkan kematian dalam beberapa menit.

Faktor-faktor ini diharapkan bisa membantu dokter dan pasien dalam mengidentifikasi seseorang yang berisiko tinggi.

Berikut ini adalah beberapa faktor yang ditemukan oleh peneliti yaitu:

Etnis, peneliti menemukan orang dengan etnis hitam lebih mungkin meninggal karena serangan jantung sebelum mencapai rumah sakit.

Memiliki tekanan darah tinggi, jika seseorang memiliki riwayat tekanan darah tinggi atau hipertensi maka bisa meningkatkan denyut jantung yang menjadi prediktor kuat kematian mendadak.

Nilai indeks massa tubuh (IMT), seseorang yang memiliki nilai IMT tinggi atau rendah secara signifikan dikaitkan dengan risiko kematian mendadak yang lebih besar, tapi tidak meningkatkan risiko penyakit jantung koroner.

Hasil pemeriksaan ECG, tes ECG (electrocardiograph) dilakukan untuk mengukur irama detak jantung. Jika hasil tes ini abnormal maka bisa menjadi prediktor terkuat terhadap kematian jantung mendadak.

Faktor-faktor ini umumnya tidak bersifat kausal, yang berarti belum tentu orang dengan kriteria tersebut tidak bisa mengelak dari kematian jantung, tapi orang yang tidak termasuk kriteria ini belum tentu terlindungi sepenuhnya.

Untuk itu setiap orang tetap perlu menjaga kesehatan dengan melakukan pola makan yang baik serta gaya hidup sehat yang menyeluruh agar terhindar dari risiko kematian mendad (ver/ir)

Sumbr: Vera Farah Bararah – detikHealth 

Dalam rangka memperingati Hari Hepatitis Sedunia, Kementerian Kesehatan menyelenggarakan Seminar Hepatitis di Kantor Kemkes, Jakarta (28/07). Acara yang dibuka secara resmi oleh Menteri Kesehatan RI, dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, ...
Peranan vitamin C dalam mencegah penyakit jantung telah menjadi perdebatan dunia penelitian selama bertahun-tahun. Dan perdebatan itu akan segera berakhir ketika sebuah penelitian baru berhasil menemukan manfaat protektif vitamin C. ...
Peningkatan kadar protein yang dinamakan Retinol Binding Protein  (RBP4) mengindikasikan pertumbuhan lemak perut tebal yang secara kuat dikaitkan dengan diabetes tipe 2 dan penyakit jantung. ...
Obesitas tidak hanya dihubungkan  dengan kanker prostat yang lebih agresif tetapi juga untuk tumor yang lebih besar, Peneliti Italia melaporkan. Sementara beberapa penelitian telah melaporkan hubungan antara ...
Berdasarkan statistik, sekitar 17,5 juta orang per tahun meninggal akibat penyakit yang menyerang jantung dan pembuluh darah. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan menyatakan penyakit kronis seperti penyakit jantung menjadi penyebab ...
Penderita Hepatitis Harus Rajin Harus Disiplin Minum Obat
Vitamin C Kurangi Resiko Penyakit Jantung pada Wanita
Tes lemak perut Anda bagi yang berisiko diabetes
Laki-Laki yang Obes Mempunyai Tumor Prostat yang Lebih
Sayangi Jantung, Kurangi Lemak dari Gorengan

You may also like...